Press ESC to close

Dosen Unpad Kembangkan Aplikasi Pengujian Pakan Ternak untuk Atasi Oplosan Dedak Padi

Jakarta – Klik Ternak. Dosen Departemen Nutrisi Ternak dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), Iman Hernaman, mengembangkan aplikasi pengujian pakan ternak menggunakan analisis regresi. Pengujian ini dapat menentukan kandungan sekam padi dalam pakan dedak yang dioplos dengan cepat.

Dedak padi merupakan salah satu bahan pakan bagi hewan ternak, khusunya ternak ruminansia. Namun, produksi dedak padi di Indonesia lebih sedikit ketimbang kebutuhan pakan ternak.

Hal ini membuat banyak oknum pedagang mencampurkan dedak padi dengan sekam padi dalam produk pakannya. Sekam padi mengandung lignin dan silika yang bisa merusak saluran pencernaan ternak.

Secara kasat mata, pakan campuran sekam sulit dibedakan dengan pakan dedak padi asli. Pihak KUD selaku pemasok pakan ke peternak melakukan pengujian di laboratorium untuk mengetahui apakah dedak yang dibeli dari pedagang mengandung campuran sekam atau tidak.

Hasil pengujian laboratorium membutuhkan waktu minimal tiga hari. “Problem-nya, pedagang sudah datang ke KUD, sehingga tidak mungkin harus menunggu tiga hari dulu lalu kemudian kembali lagi,” kata Iman dikutip dari laman unpad.ac.id, Jumat, 18 Agustus 2023.

Dosen Departemen Nutrisi Ternak dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Unpad, Iman Hernaman. Sumber : Dokumen Unpad

Untuk itu, Iman mengembangkan prosedur pengujian pakan menggunakan analisis regresi. Hasil pengujian cukup membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Prosedur ini bisa memperlihatkan besar kandungan pencemar dari pakan serta harga jual yang seharusnya. Iman mengatakan dari sisi harga, harga pakan oplosan seharusnya memiliki harga lebih rendah ketimbang harga pakan dedak murni.

Kenyataan di lapangan, banyak petani membeli pakan oplosan dengan harga sesuai pakan dedak murni. “Kalau selisih harganya banyak dan dia (KUD) membeli dengan jumlah yang banyak, maka dia akan kehilangan ekonomi yang besar,” ujar Iman.

Iman bersama tim menyusun prosedur tersebut dengan memanfaatkan teknologi informasi guna menghindari kerugian di skala peternak kecil. Prosedur yang dikembangkan Iman terbilang singkat, yaitu mampu menentukan persentase kandungan sekam serta menentukan harga jual yang layak dari pakan yang diuji dengan cepat.

Melalui prosedur yang dikembangkannya, penguji mengambil sampel pakan dedak sebanyak 1 gram. Sampel disimpan di cawan berdiameter 5 sentimeter dan diberi larutan klorogusenol.

Campuran sampel dengan klorogusenol dilakukan untuk menentukan kalibrasi dari sampel yang akan diuji. Proses kalibrasi tersebut menggunakan aplikasi Color Grab pada ponsel pintar yang dikembangkan Iman.

Untuk kalibrasi, cawan uji yang telah dicampur larutan didiamkan selama 10-15 menit lalu dimasukkan ke kotak khusus tertutup yang sudah diberi cahaya. Kotak tersebut merupakan kreasi dari Iman dan tim yang sudah dimodifikasi untuk mendukung proses kalibrasi makin akurat. Tidak butuh lama, aplikasi akan mengeluarkan nilai warna merah yang terlihat dari sampel.

Tempatkan cawan di tengah kotak, kemudian foto cawan menggunakan kamera ponsel melalui aplikasi Color Grab. Proses pemotretan dilakukan melalui lubang tepat di atas cawan. Begitu aplikasi mengunci objek, penguji dapat langsung memotretnya.

Dia menjelaskan hasil dari nilai tersebut kemudian dimasukkan ke laman https://nttp.peternakan.unpad.ac.id/tes-kualitas-dedak/ untuk menentukan berapa persentase sekam dari sampel tersebut. Kemudian, penguji memasukkan manual harga dedak dan sekam di pasaran. Sistem kemudian akan melakukan penghitungan dan akan didapat harga penawaran yang direkomendasikan.

“Pemilik gudang (KUD) jadi punya patokan harga untuk menawar pakan di bawah harga yang direkomendasikan sistem,” kata Iman.

Iman mengatakan kunci dari risetnya ada pada formula penghitungan yang dikembangkan. Kendati menggunakan metode regresi, Iman optimistis formula yang dikembangkannya cukup akurat dan mampu menentukan kadar sekam dalam pakan dalam waktu terbilang cepat dibandingkan dengan pengujian konvensional di laboratorium.

Selain itu, prosedur ini juga tidak memerlukan pengujian di laboratorium. Cukup menyiapkan kotak khusus untuk kalibrasi, cawan, larutan kloroglusenol, serta ponsel yang memiliki aplikasi Color Grab dan kamera.

“Proses pengujiannya juga bisa di dalam gudang, tidak perlu ke laboratorium,” kata Iman.

Iman mengungkapkan riset ini berangkat dari tantangan peternak kepada dosen Fapet untuk menentukan adanya pemalsuan dedak dengan cepat. “Lima tahun lalu saya ditantang peternak untuk menciptakan alat yang bisa menguji pakan dengan cepat. Sekarang hasilnya ada,” kata dia bangga.

Pengujian kandungan dedak padi dinilai penting. Sebab, pakan yang dioplos menimbulkan banyak kerugian (RED/KT)

×

Klik Ternak

Media peternakan yang menghadirkan konten menarik, informatif dan edukatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *