
Jakarta – Klik Ternak. Pemerintah berencana membangun pabrik pakan dan bibit ayam skala besar di berbagai pulau. Langkah ini dilakukan demi mewujudkan konsep “Setiap Pulau Mandiri Protein” dan mengatasi ketergantungan impor bibit.
Kementerian Pertanian (Kementan) akan mengembangkan kluster produksi ayam petelur dan ayam pedaging di sepuluh provinsi sebagai langkah awal. Tujuannya, pemerataan produksi daging ayam dan telur di seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menyebutkan beberapa provinsi yang menjadi lokasi perdana pengembangan kluster produksi ayam. Provinsi-provinsi tersebut antara lain Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.
“Pemerintah mendorong pemerataan produksi daging ayam dan telur di luar Jawa,” jelas Agung, dikutip dari antara, Kamis (22/11/2025). Agung menambahkan, pemerataan produksi ini ditujukan untuk menekan disparitas harga serta menjaga stabilitas pasokan daging dan telur ayam secara nasional.
Di sisi hilir, produksi daging ayam sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi daging ayam ras pada 2024 mencapai 3,83 juta ton. Bahkan, estimasi produksi pada 2025 diperkirakan naik 10,95 persen menjadi 4,25 juta ton, jauh melebihi kebutuhan nasional sebesar 3,87 juta ton.
Namun, masalah krusial terletak pada sisi hulu, di mana Indonesia masih sangat bergantung pada impor bibit ayam. Pemerintah bahkan membuka impor grandparent stock (GPS) atau bibit induk ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer) sebanyak 580 ribu ekor pada tahun ini. Jumlah ini meningkat 50 ribu ekor dibandingkan kuota impor tahun sebelumnya.
Kondisi ini membuat peternak dan pembibit lokal bergantung pada kuota impor pemerintah. Keluhan pun muncul terkait distribusi bibit yang dinilai tidak merata.
“Perusahaan integrator yang mengendalikan rantai pasok hanya menyalurkan bibit ke mitra tertentu,” ungkap seorang peternak yang enggan disebutkan namanya. Akibatnya, peternak rakyat kesulitan mendapatkan bibit.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah berencana membangun 30 pabrik pakan dan bibit ayam skala besar di berbagai sentra produksi. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan menjadi investor dengan kucuran dana sebesar Rp 20 triliun. Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mewujudkan konsep “Setiap Pulau Mandiri Protein” dan memutus ketergantungan impor. (RED/KT)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.