Jakarta – Klik Ternak. Indonesia secara resmi menabuh genderang transformasi peternakan berkelanjutan melalui peluncuran proyek GEF-8 FSIP-Livestock senilai Rp237,2 miliar. Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Project Document (Prodoc) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Kamis (26/2/2026), sebagai komitmen membangun sistem pangan yang lebih tangguh, produktif, sekaligus ramah lingkungan.
Dana hibah dari Global Environment Facility (GEF) tersebut dialokasikan secara lintas sektor. Kementerian Pertanian mengelola sekitar Rp195,9 miliar, sementara Kementerian Kehutanan mendapatkan porsi Rp37,5 miliar. Kolaborasi ini menjadi krusial karena pembangunan peternakan masa depan tidak lagi bisa dipisahkan dari tata kelola lanskap dan kelestarian kehutanan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa proyek bertajuk “Sustainable Livestock Production to Support Resilient Food Systems, Environment and Rural Livelihoods in Indonesia” ini akan berjalan selama enam tahun hingga 2031. Targetnya jelas: merombak total sistem peternakan nasional agar mampu menyediakan pangan hewani berkualitas dengan harga terjangkau, tanpa mengorbankan biodiversitas.
“Proyek ini memiliki tujuan utama merangsang transformasi sistem peternakan di Indonesia untuk meningkatkan kemandirian, keberlanjutan, dan memberikan berbagai manfaat nyata bagi lingkungan global,” tegas Agung Suganda di Jakarta, Kamis (26/02/2026).
Ambisi besar ini pun mendapat sorotan dunia. Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, memandang proyek ini bukan sekadar program nasional, melainkan calon cetak biru bagi negara-negara lain. Menurutnya, Indonesia selalu mengambil peran kepemimpinan yang signifikan dalam isu sistem pangan global.
“Kita harus memastikan proyek ini benar-benar berhasil, karena pengalaman dan pembelajaran yang dihasilkan akan menjadi model bagi banyak negara di dunia. Indonesia kembali mengambil peran kepemimpinan yang sangat besar di tingkat global,” tutur Rajendra Aryal di Jakarta, Kamis (26/02/2026).
Secara teknis, proyek ini bertumpu pada empat pilar utama. Salah satu yang paling ambisius adalah implementasi praktik budidaya terpadu pada lahan seluas 275.000 hektare. Lokasinya tersebar di Provinsi Lampung (Lampung Tengah dan Selatan), Nusa Tenggara Barat (Dompu dan Sumbawa), serta Kalimantan Timur (Paser).
Gebrakan di lapangan ini diproyeksikan mampu menyerap emisi lebih dari 10,8 juta ton CO2-eq sekaligus meningkatkan kesejahteraan 50.000 keluarga peternak. Namun, kesuksesan di lapangan tentu membutuhkan sokongan regulasi yang kuat dari hulu ke hilir.
Menanggapi hal tersebut, GEF Operational Focal Point Indonesia, Erik Teguh Primiantoro, mengingatkan pentingnya integrasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menilai konsep tata kelola ekosistem yang diusung proyek ini memiliki potensi besar untuk direplikasi jika dikelola dengan efisien.
“Konsep tata kelola ekosistem yang telah disampaikan tadi berpotensi menjadi model. Kuncinya adalah mengembangkan kelembagaan yang efektif dan efisien dengan melibatkan the whole of government dan the whole of society,” jelas Primiantoro di Jakarta, Kamis (26/02/2026).
Menutup rangkaian peluncuran, Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menegaskan dukungan penuhnya. Ia berharap proyek ini menjadi katalisator perubahan besar dalam sistem pangan hewani Indonesia yang lebih modern.
“Semoga ini dapat memberikan transformasi ke sistem pangan di konteks peternakan. Kami siap melaksanakan kegiatan yang telah disepakati dalam proyek ini,” pungkas Jarot. (RED/KT)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.