
Jakarta – Klik Ternak. Ancaman African Swine Fever (ASF) yang selama ini menghantui peternak babi kini memiliki lawan tangguh. Bukan obat ajaib, melainkan perubahan pola pikir mendasar lewat program Community African Swine Fever Biosecurity Interventions (CABI). Inisiatif strategis ini resmi dirampungkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bersama FAO dalam sebuah lokakarya nasional di Hotel Gran Meliá, Jakarta, Rabu (17/12/2025), setelah sukses membangun benteng pertahanan biosekuriti di tingkat akar rumput.
Program yang mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan (MAFRA) Republik Korea ini tak sekadar teori di atas kertas. Tiga wilayah sentra produksi babi—Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur—menjadi laboratorium hidup di mana ketangguhan peternak diuji. Hasilnya? Terjadi transformasi nyata dalam cara peternak melindungi aset berharga mereka dari virus mematikan.
Dari Kuratif ke Preventif: Revolusi di Kandang Rakyat
Dampak program ini terasa langsung di lapangan. Jika dulu peternak cenderung panik mencari pengobatan saat wabah menyerang, kini mindset itu berubah total menjadi pencegahan. Lewat pelatihan praktik langsung dan pendampingan rutin, para peternak di wilayah percontohan kini lebih sigap. Kebersihan kandang diperketat, akses orang asing dibatasi, hingga manajemen limbah dan pakan yang dulunya semrawut, kini tertata rapi. Deteksi dini pun berjalan lebih cepat, menutup celah bagi virus untuk menyebar.
Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Hendra Wibawa, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, menegaskan urgensi langkah ini. Baginya, melawan musuh tak kasat mata seperti ASF butuh strategi pertahanan yang solid dan disiplin tinggi.
“Mengingat tingkat kematian ASF yang sangat tinggi serta dampak ekonominya yang luas, penguatan biosekuriti menjadi sangat penting. Biosekuriti tetap merupakan lini pertahanan paling efektif,” tegas Hendra dikutip dari troboslivestock.com.
Cetak Biru untuk Peternakan Nasional
Hendra menambahkan, keberhasilan di tiga provinsi ini dipandang sebagai cetak biru yang siap diduplikasi. Ia optimis model pendekatan partisipatif ini bisa diperluas ke wilayah lain demi melindungi subsektor peternakan nasional dari penyakit hewan menular lintas batas. Sebagai bekal keberlanjutan, forum tersebut juga meluncurkan Pedoman Biosekuriti CABI, sebuah panduan praktis bagi pemerintah daerah dan peternak untuk menerapkan standar keamanan hayati yang efektif.
Di sisi lain, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, melihat kesuksesan Indonesia sebagai contoh emas bagi kawasan regional. Model biosekuriti berbasis komunitas yang diterapkan di sini, serupa dengan yang berjalan di Kamboja, Laos, dan Filipina, membuktikan bahwa solusi sederhana yang konsisten seringkali menjadi senjata paling ampuh.
“FAO pun mendorong negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik untuk mencontoh keberhasilan dan pengalaman Indonesia ini dengan mengadopsi pendekatan serupa, guna melindungi mata pencaharian peternak babi dari ancaman ASF yang terus berlangsung serta memperkuat ketahanan pangan,” jelas Rajendra.
Berakhirnya program CABI tahun ini bukanlah garis finis, melainkan awal dari standar baru peternakan babi rakyat. Dengan investasi berkelanjutan pada praktik biosekuriti yang sederhana namun berdampak besar, harapan untuk menekan penyebaran ASF dan menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga peternak di pedesaan kini semakin terang. (RED/KT)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.