
Bogor – Klik Ternak. Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menjawab tantangan ketergantungan impor daging dengan sebuah terobosan baru. Mengambil momentum di awal pekan, institusi pendidikan ini resmi meluncurkan Karkas Ayam Lokal Pedaging Unggul Premium IPB-D1, sebuah varietas hibrida yang digadang-gadang menjadi benteng ketahanan protein hewani nasional.
Langkah strategis ini bukan sekadar peluncuran produk, melainkan upaya nyata memperkuat industri pembibitan ayam lokal berbasis sumber daya genetik dalam negeri agar bisa dikelola secara mandiri oleh peternakan rakyat di pedesaan.
Pengembangan ayam IPB-D1 ini bukanlah proses semalam. Tim peneliti Fapet IPB telah merintis riset ini sejak tahun 2010 dengan visi mengurangi dominasi ayam ras impor. Melalui rekayasa pemuliaan yang ketat, IPB-D1 dirancang untuk memiliki performa tumbuh cepat namun tetap mempertahankan cita rasa khas ayam kampung yang diminati pasar.
Kunci keunggulan ayam ini terletak pada komposisi genetiknya yang unik. Tim pemulia menggabungkan sifat-sifat terbaik dari berbagai jenis ayam lokal dan ras pedaging.
“Secara genetik, komposisi ayam IPB-D1 terdiri atas gen Pelung, Sentul, kampung, dan Cobb yang masing-masing sebesar 25 persen,” jelas Ketua Tim Pemuliaan Ayam IPB-D1, Prof. Cece Sumantri di Fakultas Peternakan IPB, Bogor, dikutip dari troboslivestock.com, Senin (15/12/2025).
Prof. Cece menambahkan bahwa varietas ini merupakan hasil persilangan jantan F1 Pelung x Sentul dengan betina F1 kampung x parent stock Cobb pedaging. Proses seleksi pun dilakukan secara ketat hingga generasi kelima menggunakan genetika molekuler. Kerja keras ini terbayar ketika pada tahun 2019, IPB-D1 resmi ditetapkan sebagai rumpun baru ayam lokal pedaging unggul melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 693/KPTS/PK.230/M/9/2019.
Keunggulan IPB-D1 tidak berhenti pada status rumpun baru. Ayam ini terbukti memiliki ketahanan tubuh yang tangguh terhadap penyakit mematikan seperti Newcastle Disease (ND) dan Salmonella. Selain itu, kualitas karkasnya pun istimewa. Berdasarkan uji pasar dan analisis fisik-kimia, proporsi daging bagian dada dan paha IPB-D1 tercatat lebih tinggi dibandingkan ayam lokal jenis lain.
Di sisi lain, IPB-D1 juga diposisikan sebagai pangan fungsional untuk mengatasi masalah gizi nasional. Kandungan mineral dalam dagingnya, seperti zat besi (Fe), Zinc (Zn), Mangan (Mn), dan Selenium (Se), dilaporkan lebih baik dari rata-rata.
“Kandungan mineral seperti Fe dan Zn pada daging IPB-D1 cukup tinggi, sehingga berpotensi mendukung pencegahan anemia dan stunting,” ungkap tim peneliti dalam paparan akademiknya.
Pengembangan varietas ini terus berlanjut. Saat ini, fokus riset diarahkan pada pembentukan galur turunan yang lebih spesifik, yakni calon galur induk betina IPB-D2 dan galur pejantan IPB-D3. Galur betina difokuskan pada peningkatan ketahanan penyakit dengan indikator titer antibodi tinggi, sementara galur pejantan IPB-D3 ditargetkan mencapai bobot badan di atas 1,3 kilogram hanya dalam waktu 10 minggu.
Untuk memastikan produk ini diterima luas, IPB juga telah melakukan serangkaian standardisasi, mulai dari sertifikasi halal, penyusunan kode etik, hingga pengajuan Standar Nasional Indonesia (SNI). Riset hilirisasi pun mencakup formulasi pakan berbahan lokal serta teknologi pengawetan alami menggunakan bakteriosin.
Peluncuran ini melibatkan kerja kolaboratif lintas disiplin ilmu. Selain Prof. Cece Sumantri dan Sri Darwati di bidang pemuliaan, tim ini diperkuat oleh Prof. Niken Ulupi dan Rudi Afnan pada teknik budi daya, Prof. Sumiati di bidang nutrisi, Sri Murtini untuk ketahanan penyakit, serta Prof. Irma Isnafia Arif, Zakyah Wulandari, dan Wulan untuk kajian kualitas daging. Sementara itu, aspek komersialisasi ditangani oleh Lucia Cyrillia guna memastikan ayam lokal premium ini segera sampai ke meja makan masyarakat Indonesia. (RED/KT)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp







Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.