
Jakarta – Klik Ternak. Kementerian Pertanian (Kementan) mempererat kolaborasi dengan pemerintah Belanda untuk mengadang ancaman Resistensi Antimikroba (AMR) melalui pendekatan One Health. Kerja sama strategis ini memfokuskan pada penguatan kesehatan hewan dan masyarakat demi mencegah risiko pandemi di masa depan.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menyambut positif penguatan sinergi kedua negara ini. Menurutnya, Indonesia terus mematangkan regulasi serta penerapan ketentuan di sektor peternakan untuk memperkecil celah penyebaran AMR.
“Kami sangat senang dengan kesempatan untuk berdiskusi mengenai penanganan antimikroba dari perspektif One Health,” ujar Hendra dalam pertemuan dengan delegasi Belanda di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis, (27/08/2026).
Pertemuan tersebut menyoroti Strategi Kesehatan Global Belanda 2022–2030. Agenda besar ini mencakup kesiapsiagaan respons pandemi, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, hingga dorongan untuk memproduksi vaksin dan obat-obatan secara lokal.
Sejarah kolaborasi Indonesia dan Belanda dalam menangani AMR sejatinya telah berakar sejak tahun 2002. Kerja sama ini melibatkan institusi ternama seperti Universitas Utrecht dan Universitas Radboud yang fokus pada riset penggunaan antimikroba serta deteksi patogen.
Ketua delegasi Belanda, Andrea, mengungkapkan bahwa AMR kini menjadi ancaman nyata yang menuntut penanganan lintas sektor secara global.
“Resistensi antimikroba (AMR) saat ini menempati urutan pertama sebagai risiko utama bagi kesehatan publik di Belanda, yang kemudian diikuti oleh tantangan perubahan iklim dan potensi pandemi masa depan,” tandas Andrea.
Belanda selama ini dikenal memiliki reputasi yang baik dalam menekan angka penggunaan antibiotik. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk dibagikan kepada mitra strategis seperti Indonesia.
“Kami memiliki reputasi yang baik dalam mengurangi penggunaan antibiotik dan menjaga tingkat AMR tetap rendah. Namun untuk mempertahankan kondisi tersebut, kerja sama internasional dengan mitra strategis seperti Indonesia sangatlah krusial,” jelas Andrea.
Ke depan, pemerintah Belanda mendorong adanya penyelarasan antara kegiatan riset dan surveilans dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) AMR yang telah disusun Indonesia. Sinkronisasi ini dinilai penting agar upaya pengendalian di kedua negara berjalan selaras dengan standar global.
“Indonesia adalah mitra penting dengan sejarah kerja sama yang panjang sejak tahun 2002. Kami ingin menyelaraskan proyek riset dan surveilans yang ada saat ini dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) AMR yang telah disusun oleh pemerintah Indonesia,” ungkap Andrea.
Sebagai langkah konkret penguatan koordinasi, pemerintah Belanda berencana menempatkan seorang Konselor Kesehatan di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta pada awal tahun 2025. Kehadiran pejabat tersebut diharapkan memperlancar komunikasi harian antara Kemenkes RI, Ditjen PKH Kementan, serta Sekretariat ASEAN.
“Kunjungan kami minggu ini merupakan persiapan untuk penempatan seorang Konselor Kesehatan di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta pada awal tahun 2025. Kehadiran konselor ini nantinya akan mempererat kolaborasi harian kami dengan Kemenkes RI, Ditjen PKH, serta Sekretariat ASEAN,” pungkas Andrea. (RED/KT)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp
