Press ESC to close

Danantara Guyur Rp20 T Pacu Hilirisasi Ayam MBG

Jakarta – Klik Ternak. Ambisi besar pemerintah untuk mengamankan pasokan protein bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mewujud nyata. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi menggelontorkan dana segar senilai Rp20 triliun guna membangun ekosistem peternakan ayam terintegrasi. Langkah strategis ini ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) fase I yang dilakukan serentak di enam lokasi pada Jumat (6/2/2026), sedikit meleset dari jadwal awal akhir Januari lalu.

Investasi jumbo ini bukan sekadar soal menambah kandang ayam. Proyek ini dirancang sebagai mesin raksasa yang menyatukan seluruh rantai pasok industri perunggasan, mulai dari pembibitan di hulu hingga pemrosesan di hilir.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya membangun kedaulatan pangan yang berpihak pada rakyat kecil, bukan sekadar mengejar angka produksi.

“Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian [Andi Amran Sulaiman] sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” tegas Agung Suganda dikutip dari koranbumn.com, Minggu, (08/02/2026).

Agung memaparkan, ekosistem yang dibangun sangat kompleks dan menyeluruh. Di sektor hulu, fokus tertuju pada penguatan stok bibit ayam, mencakup Grand Parent Stock (GPS), Parent Stock (PS), hingga Final Stock (FS).

Tidak berhenti di sana, proyek ini juga menyasar kemandirian pakan berbasis bahan baku lokal. Sementara di sektor hilir, infrastruktur pendukung seperti Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), gudang rantai dingin (cold chain), hingga logistik distribusi disiapkan untuk menjaga kualitas daging dan telur hingga ke tangan konsumen.

Keseriusan pemerintah terlihat dari pemilihan enam lokasi perintis yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia, yakni Malang (Jawa Timur), Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara, Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (NTB), dan Lampung Selatan. Rencananya, titik-titik ini akan terus bertambah hingga mencapai 30 lokasi di seluruh nusantara.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut bahwa percepatan ini tak bisa ditawar lagi mengingat besarnya manfaat ekonomi yang dipertaruhkan.

“Proyek hilirisasi selalu menjadi prioritas Bapak Presiden. Karena itu percepatan terus dilakukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh ekonomi masyarakat,” tutur Rosan di sela-sela keterangannya.

Di atas kertas, target yang dipatok pemerintah terbilang fantastis. Proyek ini diproyeksikan mampu menyuntikkan tambahan produksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun. Angka ini krusial mengingat program MBG sendiri membutuhkan pasokan 1,1 juta ton daging ayam dan 774.000 ton telur setiap tahunnya untuk melayani 82,9 juta penerima manfaat.

Dampak ekonominya pun diprediksi masif. Hilirisasi ini diperkirakan akan membuka 1,46 juta lapangan kerja baru dan mendongkrak pendapatan bruto peternak hingga Rp81,5 triliun per tahun.

Untuk memastikan peternak kecil tidak hanya menjadi penonton, pemerintah juga membuka keran pembiayaan. Selain dana dari Danantara, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp50 triliun disiapkan bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa (KopDes) Merah Putih. Nantinya, BUMN Pangan melalui ID Food akan berperan sebagai off-taker atau pembeli siaga untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Meski mesin produksi mulai dipanaskan, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah besar terkait kepercayaan publik. Respons masyarakat terhadap program MBG memang positif, namun diiringi kewaspadaan tinggi terhadap potensi kebocoran anggaran.

Data terbaru dari Indikator Politik Indonesia melukiskan paradoks ini dengan jelas. Survei yang digelar pada 15–21 Januari 2026 menunjukkan bahwa 72,8% responden merasa puas dengan program inisiatif Presiden Prabowo Subianto ini. Gen Z menjadi kelompok paling antusias dengan tingkat kepuasan menembus 80,7%.

Namun, di balik angka kepuasan tersebut, mayoritas publik meragukan integritas pelaksanaannya. Hanya 33,8% responden yang yakin program ini bersih dari korupsi. Sebaliknya, 61,7% masyarakat menyatakan kurang atau tidak percaya sama sekali bahwa program bernilai triliunan rupiah ini bebas dari praktik rasuah.

Keraguan terbesar datang dari kelompok berpendidikan tinggi dan pekerja sektor formal, yang secara tradisional lebih kritis terhadap tata kelola pemerintahan. Fakta ini menjadi sinyal keras bahwa suksesnya program MBG dan hilirisasi ayam tidak hanya bergantung pada berapa banyak kandang yang dibangun, tetapi juga seberapa transparan dana tersebut dikelola. (RED/KT)

Baca Klik Ternak di Google News

Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp

Klik Ternak

Media peternakan yang menghadirkan konten menarik, informatif dan edukatif

Tinggalkan Balasan