
Merauke – Klik Ternak. Di tengah hiruk pikuk dunia akademik, seorang dosen di Universitas Musamus Merauke, Ir. Nurcholis, S. Pt., M. Si., IPM, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat diterapkan langsung di lapangan untuk menghasilkan keuntungan yang signifikan.
Dengan keahliannya di bidang teknologi reproduksi atau breeding, Nurcholis berhasil “mencetak” sapi-sapi berkualitas premium yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah, jauh melampaui harga sapi biasa.
Kisahnya bermula dari keprihatinan Nurcholis terhadap kondisi peternak di Merauke, khususnya di daerah transmigrasi, pada tahun 2018.
“Mereka itu masih ingin memiliki sapi-sapi yang bagus dengan harga jual yang mahal,” tegas Nurcholis di kandangnya, Merauke, (15/05/2024). Sebagai seorang akademisi, ia merasa tergerak untuk mencari solusi dan memberikan kontribusi nyata.
Nurcholis memulai peternakannya sendiri pada tahun 2021, dengan fokus pada sistem breeding. Awalnya hanya memiliki dua ekor sapi, kini jumlahnya bertambah menjadi lima ekor sapi murni Brahman dan Simental, serta satu ekor sapi hasil persilangan. Ia secara konsisten menerapkan teknik back cross untuk mengembalikan genetik sapi ke tetua yang unggul, memastikan kualitas keturunan tetap terjaga.
Yang menarik, Nurcholis membuktikan bahwa pakan berkualitas tidak selalu harus mahal. Ia memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami padi dan jagung sebagai pakan utama, dilengkapi dengan comboran sederhana yang terdiri dari dedak, mineral, molases, dan probiotik.
“Comboran itu kami tidak menggunakan konsentrat, cuma dedak dicampur dengan mineral, ditambah molases, sama probiotik,” jelas Nurcholis.
Pola pemberian pakan dua kali sehari untuk hijauan dan comboran, dengan air minum tersedia setiap saat, menjadi kunci pertumbuhan optimal sapi-sapinya.
Selain itu, Nurcholis sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan ternaknya.
Kandang miliknya selalu bersih, bebas lalat dan nyamuk, bahkan saat musim hujan.
Ia rutin melakukan pengasapan dan penyemprotan sapi setiap dua hari sekali. Pencegahan penyakit juga dilakukan dengan injeksi multivitamin setiap dua bulan.
“Tidak ada penyakit yang urgent yang menyerang karena saya setiap dua bulan saya injek vital vitamin,” tutur Nurcholis.
Melalui program hibah yang dimenangkan pada tahun 2018, Nurcholis juga aktif mendatangkan bibit unggul dari Balai Besar Singosari dan Lembang untuk dibandingkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Hasilnya, terjadi peningkatan drastis nilai jual sapi.
“Dulu, pedet sapi putih biasa umur 6 bulan itu paling 8 juta. Sekarang, kalau seperti yang Mas lihat tadi itu sudah 30-an juta,” ungkap Nurcholis, menyoroti perbedaan harga yang mencapai berkali-kali lipat.
Keberhasilan ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga menginspirasi masyarakat. Banyak peternak yang kini merasa terbantu dan ingin terus melanjutkan program peningkatan kualitas sapi.
Kandang milik Nurcholis bahkan terbuka sebagai tempat praktik bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin belajar langsung.
“Itu yang mengilhami saya kenapa saya mau bergerak di bidang ini,” pungkas Nurcholis, menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi bagi kemajuan peternakan di Merauke. (Klik Ternak)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp






Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.