
Magelang – Klikternak.com. Kementerian Pertanian mendorong pengembangan Kabupaten Magelang sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah guna mengejar target swasembada susu nasional yang dicanangkan pemerintah pusat, Jumat, (30/10/2026). Langkah pengembangan kawasan di Jawa Tengah ini menitikberatkan kesiapan infrastruktur dasar, kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan usaha di tingkat desa.
“Pesan dari Bapak Presiden bahwa kita harus mencapai swasembada susu,” kata Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa saat menemui peternak di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.
Potensinya tersebar di delapan kecamatan. Wamentan Saleh meminta pemerintah kabupaten lekas menyusun ekosistem usaha yang terpadu agar kegiatan peternakan berjalan berkesinambungan. Penempatan tenaga kerja juga mesti disesuaikan dengan bidang keahlian supaya eksekusi teknis di lapangan berlangsung terukur.
Meski begitu, keberadaan wadah bersama dinilai menjadi tumpuan utama perbaikan tata kelola. Koperasi peternak diproyeksikan menghimpun hasil panen harian sekaligus mengikis ketergantungan pada rantai niaga yang timpang. Tujuannya memperkuat posisi tawar.
“Rapatkan barisan petani peternak, solidkan kebersamaan kita,” tegas Saleh.
Pemerintah daerah menyambut arahan tersebut dengan memetakan wilayah yang memiliki kesesuaian agroklimat. Kecamatan Ngablak saat ini tercatat telah membangun basis aktivitas budi daya yang cukup aktif.
“Mari Kabupaten Magelang bangkit bersama-sama, bisa mandiri berdaulat pangan khususnya di bidang sapi perah,” ujar Bupati Magelang Grengseng Pamuji.
Namun, hambatan pasokan masih membayangi pergerakan usaha di lapangan. Dua koperasi lokal yang menaungi peternak, yaitu Pancaraga dan Amarto, masing-masing baru mampu menghasilkan susu di bawah 2.000 liter per hari sehingga belum memenuhi syarat volume minimum untuk pengiriman langsung ke industri pengolahan susu (IPS).
Sebabnya, selisih keuntungan peternak tergerus perantara. Rendahnya volume produksi tersebut berdampak langsung pada rantai pasok dan selisih harga jual, di mana peternak rata-rata menerima Rp8.000 per liter ketimbang menyalurkannya ke industri pengolahan yang sanggup menembus angka Rp9.000 per liter.
Kapasitas produksi masih terbatas. Untuk mendongkrak angka perahan tersebut, pemerintah kabupaten mengambil langkah pembinaan manajemen kandang serta penambahan populasi sapi secara bertahap.
Pembenahan kelembagaan mulai berjalan. Pemerintah daerah menggandeng Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) guna memberikan asistensi teknis dan edukasi lapangan kepada warga sembari menunggu penambahan populasi bergulir.
Di lain pihak, kementerian tengah menjajaki alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) demi menutup kebutuhan modal awal peternak di sentra-sentra produksi baru. Bantuan kemitraan ini bakal diformulasikan sesuai pemetaan kebutuhan riil di kandang.
“Kalau memang ada ide-ide dari potensi lain di Jawa Tengah ini, kami siap untuk mendukung,” pungkasnya (RED/KT)











