
Jakarta – Klikternak.com. Pemerintah Indonesia mempercepat proses reakreditasi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunungsindur sebagai ASEAN Reference Laboratory for Animal Vaccine Testing. Langkah teknis ini dibahas dalam forum The 34th Meeting of the ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) yang selenggarakan secara hybrid pada Selasa, (8/9/2026). Pertemuan kawasan tersebut turut menyepakati adopsi hasil sidang ASEAN National Focal Points for Veterinary Products (ANFPVP) ke-13 yang disampaikan delegasi Vietnam perihal pengawasan produk veteriner.
Delegasi Indonesia mendesak forum menindaklanjuti laporan penilaian ulang fasilitas di Bogor itu agar penetapan resminya segera rampung. Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menegaskan mekanisme laboratorium rujukan regional krusial untuk menyelaraskan kapasitas teknis laboratorium veteriner antarnegara anggota.
“Indonesia sangat menghargai mekanisme laboratorium rujukan ASEAN sebagai platform penting untuk memperkuat kapasitas laboratorium, kerja sama teknis, serta harmonisasi standar pengujian vaksin hewan di antara negara-negara anggota ASEAN,” ujar Hendra.
Uji Tujuh Vaksin Unggas
Pengakuan regional yang tengah diajukan BBPMSOH membidik mandat spesifik pada pengujian produk biologis unggas. Penyakit yang masuk cakupan pengujian meliputi infeksi virus maupun bakteri berisiko tinggi bagi peternakan.
“Cakupan pengakuan yang diusulkan mencakup pengujian vaksin untuk Newcastle disease, Marek’s disease, Infectious Laryngotracheitis, Infectious Bronchitis, Egg Drop Syndrome, Fowl Cholera, dan Haemophilus paragallinarum,” imbuh Hendra.
Langkah ini bukan baru. Balai pengujian di Gunungsindur tersebut telah mengantongi akreditasi laboratorium vaksin ASEAN sejak 2002 silam. Dokumen Certificate of Approval terakhir yang diterbitkan berlaku hingga Oktober 2025. Makanya, reakreditasi digenjot demi menjamin kesinambungan legitimasi pengujian mutu obat hewan di tingkat regional.
Selaras Standar Dunia
Negara anggota menyambut positif usulan pembaruan metode yang diajukan perwakilan Indonesia. Wakil Kepala Divisi Pakan Ternak dan Kedokteran Hewan Vietnam, Le Thi Hue, menyebut Indonesia aktif memutakhirkan prosedur uji agar sejalan dengan rujukan kesehatan hewan dunia.
“Indonesia mengusulkan penyesuaian metode pengujian dalam standar vaksin hewan ASEAN agar selaras dengan WOAH Terrestrial Manual. Hasil revisi standar tersebut selanjutnya akan dibahas untuk mendapatkan persetujuan negara-negara anggota ASEAN,” ujar Le Thi Hue.
Standar global jadi acuan. Kelanjutan proses ini tinggal menunggu rekomendasi resmi dari kelompok kerja ASWGL menuju forum Senior Officials Meeting of the ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (SOM-AMAF) agar Sekretaris Jenderal ASEAN dapat menandatangani Certificate of Approval bagi BBPMSOH. (Klik Ternak)
Baca Klik Ternak di Google News
Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp
