Lewati ke konten utama

Press ESC to close

Manfaatkan Akasia dan Silase, TEP IPB dan Unmus Gagas Kemandirian Pakan di Papua Selatan

Merauke – Klikternak.com. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Peternakan IPB University menggandeng Universitas Musamus menggelar lokakarya inovasi pakan dan tata kelola bisnis. Merauke, Sabtu, (12/9/2026). Pelatihan ini membedah kekayaan vegetasi lokal Papua Selatan agar dapat diolah menjadi pakan mandiri serta peluang wirausaha baru.

Peternak Merauke kerap terkendala pasokan ransum berkualitas saat musim kemarau tiba. Melalui workshop ini, akademisi kedua kampus berupaya memutus ketergantungan peternak pada pakan pabrikan yang harganya terus melambung akibat ongkos logistik.

Dalam sesi teknis,  Dr. Tekad Urip Pambudi Sujarnoko., S.Pt., M.Si memaparkan cara meramu daun dan kulit akasia yang tumbuh liar di Merauke menjadi obat cacing herbal, disusul peragaan teknik fermentasi hijauan menjadi silase guna menjamin pasokan nutrisi ternak sepanjang musim. Prinsip fermentasi memungkinkan rumput lokal awet berbulan-bulan tanpa kehilangan kadar protein penting.

Pelatihan kemudian bergeser ke ranah komersial. Pendiri sekaligus CEO PT Apis Agro Palacio, Ardiansah Febriantoko, STP., M.Si, membedah peta jalan usaha ternak dari hulu ke hilir. Ia menegaskan, peternak tidak boleh berhenti pada urusan produksi bobot karkas semata, melainkan mesti jeli membaca pasar yang spesifik dan menghitung efisiensi bahan baku harian.

Dosen Program Studi Peternakan Unmus berkonsentrasi nutrisi ternak, Irine Ike Praptiwi, S.Pt.,MP, menyambut baik langkah tim IPB University yang membawa riset aplikatif langsung ke hadapan mahasiswa.

“Saya memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan workshop ini. Potensi peternakan itu banyak dari potensi alam untuk pengembangan peternakan sebagai bahan silase. Ini wawasan baru bagi mahasiswa sehingga dapat menambah pengetahuan mereka,” ujar Irine.

Ia menaruh harapan besar agar transfer ilmu ini berlanjut menjadi agenda riset bersama antara Merauke dan Bogor.

“Selain menambah wawasan, ini memberikan strategi awal bagi kami untuk membangun hubungan dengan IPB University ke depannya untuk berkolaborasi dan berkegiatan bersama, terutama dalam melihat potensi yang ada,” tuturnya.

Tapi Irine berpesan agar kerja kolaborasi kedua institusi pendidikan tersebut tidak lekas menguap seusai acara seremonial rampung.

“Harapan saya, setelah program TEP ini berakhir tidak hanya sebatas laporan jadi, tetapi ada dampak untuk masyarakat,” tegas Irine.

Perwakilan mahasiswa Unmus, Dwi Susanto, mengaku materi yang disuguhkan pemateri menjawab kegelisahan peternak yang sering ia temui di distrik-distrik Merauke.

“Workshop tersebut begitu menarik karena mengangkat materi pakan fermentasi dan bisnis peternakan yang ada di wilayah Merauke,” kata Dwi.

Dwi berharap kampus terus menghadirkan kelas-kelas praktik serupa ke depannya.

“Semoga ke depannya bisa berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat di wilayah Merauke,” ucapnya.

Workshop ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian program TEP Peternakan IPB dalam mendampingi kawasan transmigrasi Distrik Semangga. Lewat perpaduan riset kampus dan bahan baku liar seperti akasia, peternak di perbatasan Papua Selatan didorong mandiri tanpa terus bergantung pada pasokan luar pulau. (Rizki)