Lewati ke konten utama

Press ESC to close

TEP IPB Kaji Amoniasi Jerami Padi, Atasi Paceklik Pakan Sapi Merauke

Merauke – Klikternak.com. Pasokan rumput segar yang menyusut drastis selama kemarau panjang memaksa peternak sapi di kawasan transmigrasi Salor, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan memutar otak guna mencari alternatif pakan ternak. Penurunan ketersediaan hijauan ini memukul sektor peternakan setempat, mengingat pakan memegang peranan krusial bagi pemenuhan nutrisi, bobot tubuh, daya tahan, hingga siklus reproduksi ternak ruminansia. Persoalan defisit pakan musiman tersebut kini menjadi fokus kajian lapangan Tim 17 Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University dalam agenda pemetaan potensi peternakan tahun 2026.

Kondisi padang rumput mengering. Menjawab kendala musiman tersebut, tim peneliti memetakan hasil samping kegiatan pertanian lokal yang berlimpah di Salor, salah satunya jerami padi sisa panen masyarakat yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

Ketua Tim 17 Ekspedisi Patriot IPB University, Dr. drh. Dwi Budiono, M.Si., menilai intervensi pakan di kawasan transmigrasi Semangga harus berakar kuat dari identifikasi potensi bahan yang telah tersedia di lingkungan sekitar peternak.

“Persoalan pakan menjadi salah satu hal yang kami temukan di lapangan, terutama ketika kondisi kemarau menyebabkan ketersediaan hijauan menurun. Karena itu, kita perlu melihat sumber daya lokal yang tersedia dan bagaimana sumber tersebut dapat diolah menjadi alternatif pakan yang dapat membantu peternak menghadapi keterbatasan pakan,” ujar Dr. drh. Dwi Budiono, M.Si.

Tindak lanjut dari temuan itu diarahkan pada uji coba pengolahan bahan mentah. Jerami yang dikumpulkan dari lahan pertanian Distrik Semangga diproses menggunakan metode amoniasi berbahan urea dalam wadah tertutup kedap udara.

Reaksi kimia urea menghasilkan amonia yang bertugas merenggangkan susunan serat kasar jerami yang liat. Tapi perlakuan fermentasi tersebut tidak berhenti pada kemudahan proses pembuatan semata. Tim ekspedisi wajib mengevaluasi parameter laboratorium secara ketat, meliputi kadar air, kandungan nutrisi, tingkat kecernaan, serta potensi faktor pembatas pakan sebelum formula ini dibagikan secara luas kepada peternak sapi Salor.

Langkah pengujian kimiawi ini krusial. Karakteristik jerami mentah tanpa proses pengolahan terbukti tidak mampu memenuhi standar nutrisi ternak secara optimal.

Dwi Budiono menegaskan bahwa alih teknologi tidak boleh membebani daya beli maupun keterampilan warga transmigran. Aspek ketersediaan bahan baku, kemudahan aplikasi, dan nilai ekonomis wajib menjadi pertimbangan utama.

“Kita ingin melihat apa yang sebenarnya tersedia di sekitar peternak, kemudian bagaimana bahan tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat. Jadi, pendekatannya bukan sekadar membawa teknologi dari luar, tetapi mengembangkan solusi berdasarkan potensi lokal dan kebutuhan yang ditemukan di lapangan,” pungkasnya.

Pola integrasi ini sekaligus membuka ruang pemanfaatan timbal balik antara sektor pangan dan peternakan di Merauke. Limbah jerami diolah sebagai pakan cadangan saat rumput langka, sementara kotoran sapi dikembalikan menjadi pupuk kandang bagi lahan sawah warga. (Klikternak)