Press ESC to close

Pakar FIKKIA UNAIR Ungkap Solusi Tantangan & Potensi  Sapi Perah Indonesia

Banyuwangi – Klik Ternak. Sejak era kolonial Belanda, peternakan sapi perah di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan. Kini, mayoritas peternakan masih didominasi oleh skala kecil dengan manajemen tradisional. Untuk membahas potensi dan tantangan agribisnis sapi perah di Indonesia, Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi menggelar kuliah tamu daring pada Sabtu (10/4/2025). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Kedokteran Hewan dari FKH dan FIKKIA UNAIR.

“Agribisnis sapi perah mencakup seluruh kegiatan ekonomi, dari produksi hingga pemasaran susu sapi. Integrasi dari hulu ke hilir ini membutuhkan dukungan sistem yang kuat,” ujar Farissa Romadhiyati, drh., M.AFH., Ketua Tim Kerja Sertifikasi dan PIA BPPKH, saat menjadi narasumber utama, dilansir dari unair.ac.id.

Menurut Farissa, subsistem hulu memegang peranan penting dalam menjadikan sapi sebagai komoditas utama. Pemilihan genetik yang baik menjadi kunci untuk menghasilkan susu berkualitas tinggi dengan kuantitas yang optimal. “Pakan juga merupakan faktor krusial, menyumbang 60-70 persen dari biaya operasional peternakan. Ketersediaan pakan yang memadai sangat penting untuk keberlanjutan usaha peternakan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Farissa menjelaskan bahwa hasil produksi susu sapi perah akan diproses lebih lanjut melalui industri pengolahan susu. Saat ini, terdapat 30 perusahaan pengolahan susu di Indonesia, dengan enam perusahaan besar menguasai 85% pangsa pasar. Perusahaan-perusahaan ini menjalin kerjasama dengan peternak lokal melalui berbagai skema kemitraan.

Namun, agribisnis sapi perah di Indonesia juga menghadapi tantangan, salah satunya adalah penyakit brucellosis yang sering terabaikan. “Banyak peternak belum menyadari bahaya brucellosis, yang dapat menyebabkan abortus dan penurunan populasi anakan secara signifikan,” ungkap Farissa.

Oleh karena itu, peran dokter hewan sangat penting dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan kepada peternak. Koperasi yang menaungi peternak harus memiliki divisi kesehatan ternak yang berfungsi sebagai edukator dan penyedia layanan kesehatan. “Vaksinasi brucella sangat penting dalam hal teknis seperti pengobatan. Koperasi harus memiliki divisi kesehatan ternak sebagai fondasi penting untuk memberikan edukasi dan melayani ternak yang sakit,” jelasnya.

Sebagai informasi, peternakan sapi perah di Indonesia telah ada sejak abad ke-19, yang awalnya dikelola oleh Belanda. Setelah penjajahan Jepang, sistem peternakan berubah menjadi berbasis kerakyatan. Meskipun demikian, produktivitas sapi perah di Indonesia masih rendah, hanya mampu memenuhi 24 persen kebutuhan susu nasional. (RED/KT)

Baca Klik Ternak di Google News

Bergabunglah dengan kami di Kanal WhatsApp

Klik Ternak

Media peternakan yang menghadirkan konten menarik, informatif dan edukatif

Tinggalkan Balasan